Bangsa Indonesia merupakan bangsa pemalu. Hal ini bisa jadi benar jika kata malu diasosiasikan dengan keengganan untuk melakukan sesuatu akibat gengsi. Dalam postingan kali ini kata gengsi akan saya ganti dengan kata malu karena terdengar lebih eufimis. Bentuk eufimisme kata ini kiranya lebih tepat untuk saya letakkan mengingat bangsa kita lebih suka mendengar perkataan yang manis ketimbang menohok.

Prinsip malu-malu ini lah yang pada gilirannya mengkerdilkan segala potensi. Dengan malu bangsa tentu tak maju, malu jugalah yang senantiasa menghinakan jiwa. Seakan tepat jikalau kita berandai tanpa bermaksud mengolok, malu tanda tak mampu. sungguh seyogyanya kita menista malu.

Mungkin, ada baiknya sebuah kisah dilatarkan, sehingga kita benar akan menista malu.

Hari ini saya bersama teman saya pak dadan bermaksud untuk bertemu pembimbing thesis kita di Tokyo Institute of Technology. Sungguh beruntung pada hari ini kita dipandu oleh teman kita yang bermarga Watanabe. Sang Watanabe pun menjemput kita dengan mobilnya Nissan keluaran terbaru dimana desain eksterior dan interiornya membuat mulut menganga. Nyaman benar kita hari ini, sudah dipandu lantas di supiri oleh teman dengan mobilnya yang bagai datang dari luar angkasa.

Ditengah-tengah perjalanan dan pembicaraan penuh basa basi, sontak kami dikejutkan dengan pengakuannya bahwa setelah mengantar kami, beliau akan segera melaju untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang pelayan restoran. Ya, benar sang Watanabe dengan mobil luar angkasanya, Sang Watanabe yang orang tuanya memiliki lebih dari satu rumah di tempat-tempat yang elit, sang Watanabe aristokrat Jepang yang hanya bisa disejajarkan dengan golongan ningrat berdarah biru di Indonesia, memiliki pekerjaan sampingan sebagai pelayan di sebuah restoran.

Sungguh, sebuah karakter yang jarang atau bahkan mustahil ditemui di Indonesia. Muda mudi ningrat Indonesia sangat boleh jadi hidup santai berleha dan berpesta. Toh harta sudah ada ditangan tanpa harus berjumpalitan mengadu nasib di dunia kuli. Jangankan menjadi pelayan, menjadi kuli umum sudah sebuah kenistaan. Malu! yah malu yang membungkus perilaku nista. Sebuah perilaku yang hanya berujung pada keterpurukan.

Ada kisah lain, yang mungkin akan semakin membuat dahi mengernyit.. Sebuah kisah yang dielaborasikan secara apik oleh Ika S. Creech, pewarta berkebangsaan Indonesia yang kini tinggal di Perancis, berikut kisahnya:

NDESO"
oleh : Ika S. Creech *)

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak,
kampungan, udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika
mengalami
atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa
takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak
ingin
lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya
dia
atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka
ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk
turut
merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama
terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung
terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini
biasa,
seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus
berupaya
untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar
bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali
dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus.
Sementara
si Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.
Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah
Indonesia
mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan
umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas
Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah
acara ceremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat
setingkat
menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk
Holden
baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
pengawalnya
tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu,
kalau
tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran
Thailand. Dia seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah
selesai
S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang
pengusaha
yang kaya raya.
Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi
pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp
communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca
Koran
ternyata konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat
berkenalan
juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
dia
anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah
serunya
saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat
jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang
atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu
pekerjaan
dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang jepang diajak ke
Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya.
Rata-rata
rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan
hanya
dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana
Negara dan Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk
perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan
istana raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman
berdagang.
Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin
seperti
orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat
beliau
sebagai kepala Negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun
istana. Di Mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala
Negara,
punya hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang dan ada
jatah
dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari
raja-raja.
Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa
sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan
seterusnya.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk,
rakyat banyak yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri
beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa
diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing,
banyak
ceremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil,
proyek
mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas,
kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada
lagi
WTS (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") ,
angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap
kekuatan
global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis
karena
tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan
APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan
paradigma
yang dipakai adalah Negara normal atau bahkan mengikut Negara maju.
Bayangkan
ada daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran
kesranya
100 juta, wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat
mengerikan dari atas sampai bawah :
-  Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp
-  Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
-  Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk
beli tv dan kulkas

-  Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung
mabuk beli minuman patungan
-  Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
-  Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
-  Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
-  Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah
petakan gang sempit di cibubur
-  Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering
keluar masuk Mc Donald
-  Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu
detail dunia persepakbolaan.
-  Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk
mencetin hp
-  62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk
saja
-  Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya
dansa dansi di acara tembang kenangan.
-  Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong
bahenol ngebor
-  Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang
dombret dan wakuncar
-  Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa
saja, kl perlu jin tomang jg digandeng

Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat
kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak
tahu dirinya kere.

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat
tinggal di Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah
satu
stasiun di Perancis.

Sungguh kita harus menista malu sehingga malu tidak menistakan kita

Tabik